Kurikulum Pendidikan Indonesia

Hakikatnya belajar adalah mudah, karena hanya mengulang-ulang.

Sejak lama saya menjadi pengamat kurikulum pendidikan di negeri ini. Akhir-akhir ini kurikulum pendidikan terutama kurikulum pendidikan dasar semakin keluar dari fitrahnya. Pendidikan yang seharusnya mencerdaskan bangsa. Kurikulum di sini lebih menjurus pada seleksi anak didik. Bukan mencerdaskan anak didik sebagai generasi penerus bangsa secara keseluruhan. Kurikulum pendidikan yang menyeleksi mana anak yang pandai dan anak yang kurang pandai. Padahal sesungguhnya tidak ada anak yang bodoh. Kecuali memang dilahirkan dengan cacat mental atau idiot.

Semua orang dilahirkan polos dan bodoh. Tak tahu apa-apa. Memang ada banyak anak yang diberi kemampuan atau kecerdasan lebih. Lebih cepat dapat menangkap dan mengerti pelajaran. Ada sebagaian yang lain agak lambat menangkap pelajaran. Perlu lebih waktu lama untuk mencerap pelajaran. Namun pada dasarnya tiap orang dilahirkan dengan kecerdasan tersendiri. Tiap seribu orang dengan seribu bakat dan kemampuan masing-masing.

Kurikulum pendidikan yang salah membuat anak menjadi merasa bodoh dan menjadikan drop out, putus asa akhirnya putus sekolah yang menjadikan kenakalan remaja.

Padahal dengan kurikulum pendidikan yang benar semua orang bisa dan berhak untuk menjadi cerdas. Menjadi ahli dibidangnya masing-masing. Tidak hanya cukup menjadi buruh pabrik tetapi mampu menjadi ahli semuanya. Menjadi tukang-tukang atau tenaga terampil di bidangnya masing-masing. Tiap orang punya bekal menjadi empu, tinggal seberapa daya tahan dia mampu mengasah keahliannya. Orang yang tidak seberapa daya tahannya akhirnya cukup menjadi pembantu tukang atau cantrik dari seorang empu.

Bukan hanya menjadi robot-robot buruh di pabrik. Tetapi menjadi empu yang mampu menyempurnakan mesin yang dipegangnya tiap hari. Minimal menjadi teknisi, tidak cukup menjadi operator saja. Memang sebagian hanya mampu menjadi operator mesin. Karena keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan. Namun lebih banyak karena malas berpikir dan berusaha untuk lebih maju.

Manusia dilahirkan dengan kemampuan otak yang luar biasa jika dididik sejak kecil untuk berlatih berpikir dan menggunakan logika. Bukan hanya menghafal pelajaran. Pendidikan di sini akhir-akhir ini hanyalah berlatih tiap hari menghafal dan mengingat. Tidak beda dengan membuat flashdisk dengan kemampuan tinggi. Pendidikan di sini bukan menciptakan komputer canggih tapi hanya mencetak flashdisk-flashdisk dengan kapasitas besar.

Anak yang cerdas digolongkan dan bisa masuk sekolah-sekolah unggulan dengan materi pelajaran yang lebih berat dan lebih banyak. Namun tidak membuatnya menjadi lebih cerdas tetapi hanya membuat mereka lebih banyak memiliki pengetahuan. Karena pendidikan di sini tidak mengasah menggunakan logika kecuali hanya menghafal. Test ujian hanya melingkari jawaban hasil dari ingatan bukannya hasil dari berpikir. Multplechoice. Bukan menjawab dengan pengertian dan logika.

Kurikulum yang seharusnya.

Sesungguhnya cabang-cabang ilmu pengetahuan sangatlah banyak. Sekolah seharusnya adalah pengenalan pada cabang-cabang ilmu pengetahuan yang sangat banyak jumlahnya tersebut.

Pendidikan dasar 6 tahun seharusnya lebih banyak pada mengasah logika dan imajinasi. Lebih banyak pelajaran berhitung dan mengarang. Menggambar dan prakarya. Jadi fitrah anak adalah bermain terpenuhi sampai tingkat ini. Anak hanya bermain-main disekolah. Belajar berhitung dan membuat prakarya untuk melatih motorik anak menggunakan tangan. Menjadikan tenaga-tenaga ahli menggunakan tangan. Mengasah daya imajinasi dengan pelajaran mengarang dan menggambar. Sekolah adalah tempat belajar, bukan tempat ujian.

Pendidikan menengah 3 tahun setingkat SMP adalah pengenalan pada cabang-cabang ilmu pengetahuan, bukan penguasaan pada materi pelajaran. Sampai pada tahapan ini tidak perlu ada test dan ujian yang hanya buang-buang biaya. Pada tahap ini adalah seleksi bakat, minat dan kemampuan. Anak didik akan terseleksi dengan sendirinya. Di mana seharusnya tempatnya.

Pendidikan menengah lanjutan tingkat SMA adalah penjurusan pada ilmu yang menjadi minat dan bakat anak didik. Tahap ini mulai ada ujian seberapa jauh anak mampu dan menyerap pelajaran. Penjurusan pada minat bakat dan kemampuan.

Perguruan tinggi barulah penguasaan pada ilmu. Diharapkan bila menjadi mahasiswa adalah benar-benar siswa yan lebih. Kelak semua mampu menjadi doktor atau professor. Bukan hanya mahasiswa gadungan yang mengejar title.

Tentang didikoseng

berusaha menyingkap tabir misteri kehidupan dan penciptaan alam semesta
This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s