Gila Tuhan – — Gila Akibat Pencarian Jati Diri.
Sejak kecil saya sudah merasa tidak nyaman dengan system pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang tidak membentuk dan menjadikan jati diri. Kelas 5 SD baru jelas minat bakat dan kemampuan saya. Saya hanya suka prakarya. Setelah tidak ada pelajaran prakarya saya sekolah ogah-ogahan. Sekolah hanya karena teman-teman yang lain bersekolah.
Sejak kelas 1 SD saya tidak bisa pelajaran berhitung akibat kurikulum pendidikan yang salah. Saya waktu itu terlambat masuk sekolah dan ketinggalan mengerjakan PR menghafal berhitung penjumlahan dan perkalian1 sampai 100. Seharusnya pelajaran berhitung adalah logika penjumlahan dan perkalian , pengurangan dan pembagian. Bukan masalah menghafal dari mengerjakan PR penjumlahan dan perkalian 1 sampai 100.
Saya suka pelajaran biologi dan kimia, fisika dan astronomi. Ilmu bumi, ilmu hewan dan ilmu tumbuh-tumbuhan. Namun kurikulum pendidikan tidak menjadikan saya mampu jadi ahli. Sekali lagi akibat system dan kurikulum yang salah.
Saya terjebak masuk jurusan IPS karena tidak bisa mata pelajaran kimia, fisika dan matematika. Sesungguhnya saya suka matematika, namun tidak mengerti sampai sekarang karena tidak diajar tentang logika matematika.
Akhirnya saya terjebak masuk Institut Seni yang berat bagi saya. Harus mengasah imajinasi dan mengembangkan imajinasi hingga menghasilkan suatu karya. Institut Seni salah bagi saya karena saya bisa dan suka menggambar. Saya tidak punya daya khayal. Akibat lemah pada pelajaran mengarang. Dan Pelajaran Bahasa Indonesia saya buruk.
Akhirnya tahun 1987 saya divonis F20.3 – Schizophrenia tak terdefinisi akibat, merenung tentang kegagalan, ketidak mampuan membahagiakan orang tua, dan lain sebagainya.
Terutama akibat mendobrak dogma larangan memikirkan Tuhan. Trinitas. Tuhan itu ESA namun tiga. Saya tidak tidur sampai 3 hari. Dan pada hari ke 4 saya dimasukkan ke panti jiwa Puri Nirmala jogja akibat paranoia. Disana saya tidak sembuh. Akibat penanganan yang tidak tepat. Saya mendapat therapy ECT yang menjadikan saya amnesia beberapa. Lupa nama-nama teman.
Dari pengalaman tetangga yang anaknya menderita gangguan jiwa, saya dianjurkan dirawat di RSJP Dr. Soeroyo Magelang. Saya berhasil sembuh dan tidak minum obat selama 11 tahun dan tidak pernah kambuh. Saya mendapat terapi Chlorpromazine, Haloperidol dan trihexiphenidyl.
Pada 1998 krisis moneter paling parah dinegeri ini, pekerjaan pertama-tama yang bangkrut adalah bekerja sebagai pekerja seni. Kemiskinan menjadikan saya kambuh dan gila lagi. Berikutnya tiap tahun selama beberapa tahun saya kambuh.
Puncaknya pada tahun 2008 saya divonis F20.5 Schizophrenia kronis dan akut. Saya mendapat penggantian obat menjadi trifluoperazine dan trihexiphenidyl. Oleh dokter Tantri.
Selama bertahun-tahun saya berobat jalan pada dokter David Japarianto dan sempat keracunan Zypraz 1mg. Saya menjadi kelinci percobaan bongkar pasang obat. Dan berhasil menemukan obat tidur yang tepat. Clozapine atau Clozaril 25mg. obat tidur yang mampu menidurkan saya. Namun harganya mahal. Untuk dapat tidur saya harus mengeluarkan Rp. 10.000,00 sekali tidur. Saya memang penderita insomnia. Tidur saya adalah 3 hari sekali.
Sekarang obat saya yang paling nyaman dipakai adalah Calmlet 2 mg. Dan terapi injeksi Medicate 25ml.
Bagi para pekerja medis, psikolog dan psikiater, saya bersedia sharing dialog tentang penyebab F20.3 mengapa orang bisa mengalami gangguan jiwa.





